Aku sedang berhenti mendayung, nanti aku akan mendayung lagi

Sekitar 5 tahun lalu, saya kedatangan tamu. Dia sosok yang sangat dekat dengan saya, suka datang tiba-tiba, banyak mempertanyakan hal tentang hidup saya, dan kadang gemar menyudutkan dengan pertanyaannya. Menurut saya dia merupakan sosok yang cukup menyebalkan, tapi di lain sisi dia adalah sosok lawan bicara yang sungguh menyenangkan.

Saya masih ingat betul, malam itu kami berdiskusi hangat. Seperti biasa kami lebih nyaman berbagi sudut pandang sembari melakukan hal yang lain. Saya sedang lahap menyantap kripik sanjai balado, sedangkan dia sedang sibuk dengan komentar sok tahunya tentang kemungkinan adanya entitas hidup di Jupiter berupa gas. Hingga akhirnya dia melihat ke arah rak mainan saya dengan pandangan sinis ala Leily Sagita di sinetron Tersanjung.

“5 tahun lagi kamu masih tetep suka koleksi mainan nggak?” tanya dia. 

“Entahlah, tapi seharusnya sih masih.” jawab saya.

“Yakin?”

“Kalo ngeliat dari antusiasmeku sekarang, kayaknya 5 tahun lagi adalah waktu yang terlalu sebentar untuk kehilangan antusiasme ini.

“Lalu waktu yang menurutmu tepat untuk kehilangan antusiasme itu berapa lama? 10 tahun? 20 tahun? Atau 100 tahun lagi saat kamu udah nggak kenal bentuk antusiasme?

“Ah, waktu itu kan relatif. Mana bisa aku memastikan kapan dan berapa lama, toh itu hanya satuan yang dikarang orang Mesir kuno dan Babilonia."

"Kalo gitu kita mundur beberapa langkah dari pertanyaan tadi. Apa hal yang sekiranya akan membuatmu berhenti koleksi mainan?”

“Pertanyaan ini harusnya kau tanyakan pada diriku di masa depan yang sudah berhenti mengoleksi mainan.”

“Bagaimana bisa aku pergi ke masa depan menemui dirimu yang sudah berhenti mengoleksi, kamu saja nggak bisa memberitahuku berapa tahun lagi. Dan lagi kalimatmu itu memberitahuku kalau memang ada pesimisme dalam dirimu soal antusiasmemu, soal dunia barumu ini yang sangat kamu gemari. Soal dunia yang bisa mendeskripsikan dirimu saat ini.”

“Darimana kamu bisa berkesimpulan aku pesimis? Ada-ada saja!”

“Jelas-jelas kamu tadi bilang 'Seharusnya 5 tahun lagi aku masih mengoleksi'. Kata 'seharusnya' itu menunjukan pesimisme dan keraguan, tahu!"

“Ya memang salah jika aku pesimis dengan antusiasmeku sendiri?”

“Antusias tapi pesimis. Bersemangat tapi ragu. Lalu tujuannya apa sih jika terlalu banyak keraguan dalam antusias? Kesannya jadi direncanakan dan nggak spontan. Nggak seru.”

Aku memasang muka kesal mendengar ucapannya. Kesal karena merasa dia ada benarnya soal gairah dan semangatku. Kesal akan opini lain yang mencampuri kehidupanku.

Singkat cerita 5 tahun berlalu sejak perbincangan itu. Saya sudah pindah dari Jakarta ke timur pulau Jawa. Sudah lama rasanya tidak datang ke acara mainan skala besar yang biasanya saya datangi di Jakarta. Kangen juga melihat pria dewasa menenteng mainan yang baru dia dapat. Mungkin istilah "Men never grow up, they just bigger" ada benarnya. Sebagai pendatang dari ibu kota, ada rasa risih yang baru saya rasakan soal Jawa dan Jakarta-sentris perihal banyak hal, terlebih lagi soal yang saya sebutkan sebelumnya. Jadi mengerti perasaan kolektor mainan yang hidup di luar Jawa.

Menarik emosi ke batas yang tidak tepat dilewati


Di tengah segala macam transisi itu, secara tidak direncanakan saya bertemu lagi dengan dia. Kami berbicara banyak hal, mulai dari kehidupan saya saat ini, isu sampah plastik yang memuakkan, hingga munculnya Cristiano Ronaldo di iklan Shopee. Sampai akhirnya dia menanyakan hal dengan topik yang sama seperti 5 tahun lalu.

"Kamu masih tetap suka koleksi mainan nggak?" dia bertanya.

Saya tersenyum, berpikir sejenak untuk menjawab namun dia sudah melanjutkan tanya.

“Sudah, kamu nggak perlu jawab. Aku tahu jawabannya dari responmu yang nggak seresponsif 5 tahun lalu.” lanjutnya.

“Apa bedanya?”

“Lirikanmu itu lho, lirikan mengingat-ingat perbincangan kita waktu itu. Di saat kamu sangat responsif dengan pertanyaan saya. Nggak pake mikir lama dan cukup asal jeplak.”

“Hahaha, ya memang saya suka asal jeplak orangnya.”

“Jadi, waktu itu telah tiba ya?”

“Waktu apa?”

“Kamu ini sedang pura-pura lupa, atau benar-benar lupa sih? Waktu yang kamu anggap hanya konsep satuan yang diciptakan Mesir Kuno itu telah tiba kan? Waktu di mana kamu kehilangan antusias. Gimana rasanya kehilangan antusias atas hal yang bisa mendeskripsikan dirimu itu?”

Tertarik emosi yang seharusnya tidak dilewati

Saya menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaannya. Hirupan oksigen saya saat itu cukup untuk renang gaya katak sejauh 15 meter. Berat rasanya untuk harus menceritakan ini kepadanya. Tapi entah mengapa dengan dia saya tidak bisa menolak untuk bercerita. Ada keyakinan saya saat itu, obrolan ini akan menarik emosi ke batas yang tidak tepat dilewati. Seharusnya saya tidak melanjutkan pembicaraan ini, tapi dengannya saya tidak bisa menolak.

“Aku hanya nggak nyangka ini akan datang secepat ini. Hanya 5 tahun dari perbincangan kita saat itu.” lanjutku.

“Cepat katamu? Katamu waktu itu relatif, dan kamu sekarang merasa terlalu cepat untuk kehilangan antusiasmemu."

“Ya ya, aku ingat aku pernah berkata demikian. Tapi sebenarnya aku nggak kehilangan antusiasme soal mainan....”

“Hanya saja.....?”

“Hanya saja antusiasme ini mulai memudar.”

“Berarti pertanyaanku waktu itu sudah bisa kamu jawab.”

“Pertanyaan yang mana?”

“Kamu ini memang kamu ya, kemampuanmu untuk mengingat sangat lemah.”

“Kamu ini memang menyebalkan, datang tiba-tiba dan mengataiku ini itu.”

“Waktu itu aku bertanya tentang apa yang menyebabkanmu berhenti mengoleksi mainan, dan kamu nggak bisa jawab. Lalu menyuruhku untuk bertanya ke dirimu yang sudah berhenti mengoleksi di masa depan. Ternyata pesimisme itu membawa di mana dirimu berada sekarang.”

“Ya, mungkin pesimisme yang membawa diriku mencapai titik ini. Tapi terlepas dari pesimis juga ada paham dan emosi positif lain yang menemaniku hingga di titik ini.” 

“Positif katamu? Rasa-rasanya kamu menganggap pesimis adalah hal yang negatif ya?”

“Bukannya selalu begitu?”

Benar dugaanku. Emosiku mulai ditarik olehnya. Kegemarannya menyudutkanku dengan omongan sok konseptualnya dan menemukan celah dari tiap diksi yang aku gunakan. Sial, kenapa dia begitu menyebalkan. Aku tidak suka dia seolah benar akan ucapan tentang diriku, meskipun pada akhirnya dia memang sering betul-betul benar.

“Kamu sama saja dengan kebanyakan orang, terlalu menyenangi hal yang dikotomi. Menurutku pesimis-optimis, baik-buruk, dan segala konsep kontradiksi lainnya tergantung di mana kamu memposisikan dirimu. Kamu terbiasa akan mengoleksi mainan dan kemudian antusiasmu memudar membawa dirimu ke tahap di luar kebiasaan itu bukan berarti hal negatif. “

"Aku rasa ini hanya soal waktu. Aku yakin setiap manusia secara alamiah akan mengalami bosan terhadap hal yang repetitif. Dalam kasusku, melihat mainan baru, membelinya atau pre-order, mendapatkan mainan incaran, memajangnya di display, lalu ada mainan baru lagi, beli lagi, dan begitu seterusnya. Menurutku ini seperti nggak ada tujuan yang jelas, seperti tidak ada akhirnya."

"Bagaimana persaanmu menghadapi ini? Aku penasaran."

"Terakhir aku membeli mainan, aku merasa kosong nggak merasakan kesenangan yang dulu aku pernah rasakan. Sisi emosional dan sentimentalku terhadap koleksi seperti hilang begitu saja.”

“Lalu apa yang kamu lakukan terhadap koleksimu?”

“Aku mulai menjual beberapa.”

"Serius? Kamu jual? Gila juga kamu! Bukannya itu barang-barang kesayanganmu?Apa rasanya?"

"Ada rasa sedih dan kehilangan. Sedih tapi ya sudah. Secara umum rasanya biasa saja, aku sudah bilang aku mulai merasa kehilangan sisi sentimental terhadap koleksiku."

“Apa jangan-jangan kamu menjual karena faktor finansial?”

"Menurutku finansialku lebih baik dibanding 5 tahun lalu. Aku pikir kegiatan mengoleksi mainan ini sedikit membosankan, kurang ada tujuan, dan aku membutuhkan tujuan dalam setiap perjalanan, bukan hanya tujuan pemuasan batin. Selalu membeli, membeli, membeli, menimbun sampai banyak, begitu terus. Sejujurnya aku masih tetap ingin mengoleksi mainan selagi aku bisa, itu hal yang menyenangkan untukku. Hanya saja aku tidak merasakan sensasi yang sama lagi dengan beberapa tahun lalu. Ada sesuatu yang pergi begitu saja."

"Apakah kira-kira akan pergi selamanya?"

"Nggak juga. Meskipun tak kunjung jumpa, nanti kami akan bersua lagi. Sementara ini, aku sedang berhenti mendayung. Kemampuan untuk bergerak itu baik, tapi kesadaran untuk berhenti itu juga penting. Nanti aku akan mendayung lagi, entah kapan. Oh iya, kali ini aku tidak pakai kata 'seharusnya'."