frans sanjaya toy reviewer indonesia


Dari sekian banyak toy reviewer Indonesia yang keberadaannya angot-angotan, Frans Sanjaya adalah nama yang mencuri perhatian saya. Mungkin dia adalah toy reviewer Indonesia dengan subscribers terbanyak. Sampai tulisan ini dibuat subscribers-nya menyentuh angka 879.000. Sungguh angka yang fantastis. Gimana bisa tukang review mainan punya subscribers sebanyak itu? Apakah permintaan pasar akan kebutuhan video review mainan memang sebanyak itu? Tau gitu saya jadi YouTuber aja, ada yang nonton syukur, nggak ada ya pundung.



YOOOOO FRIENDSSS!! Welcome back to Frans Sanjaya channel, hanya mainan yang mempersatukan kita.


Kalimat pembuka andalannya yang membuat saya dan mungkin kalian terbelalak dan seolah ada ikatan pertemanan dengannya karena dipanggil “friends” oleh beliau. Kayaknya bro banget, padahal kenal juga nggak. Saya jadi ingat dengan gaya khas Jimi “Danger” Multazham dari The Upstairs dan Morfem yang gemar menyematkan “friend/fren” sebagai kata ganti cuy, bro, dan sejenisnya. Atau mungkin nama aslinya adalah Friends Sanjaya? Entahlah, tapi saya lebih senang menyebutnya dengan Frens Sanjaya, agar berasa makin dekat aja.



Frase “hanya mainan yang mempersatukan kita” patut diacungi jempol. Karena memang faktanya terkadang demikian. Ketika agama dan instrumen fundamental lainnya tidak lagi dirasa dapat  mempersatukan, maka menurut my Frens mainan lah yang dapat mempersatukan kita. Tapi saya sih kurang setuju ya, mainan masih kalah dengan video skandal artis dalam urusan mempersatukan dan membuat keadaan menjadi adem. Seperti saat video Ariel, Cut Tari, dan Luna Maya muncul, saya rela memutus tali permusuhan dengan kawan saya demi memiringkan kepala bersama.

Mainan yang di-review beliau entah apa sebutannya kalau bukan disebut sebagai barang sultan yang rata-rata cukup untuk melunasi angsuran KPR tiap bulannya, itupun masih lebih banyak. Mulai dari action figures skala 1:6 macam Hot Toys, statue Tsume Art, berhala Iron Man ukuran 1:1 seharga ratusan juta, hingga Suzuki Ertiga pun tak luput di-review oleh beliau meskipun saya sadar itu adalah bentuk kerjasama dengan brand. Saya jadi penasaran apa ya rasanya me-review mainan-mainan non-sudra? Apakah bisa menaikan status sosial beberapa jengkal?






Bagi saya kemewahan itu bukan melulu soal nominal, tapi saya harus beranjak dari sudut pandang tersebut ketika menonton videonya. Nominal harga kerap berada pada hirarki utama, menjadi garda terdepan sebagai nilai jual nomor wahid. Namun kegemarannya me-review mainan mewah bukan semata-mata karena my Frens doyan mainan dengan harga relatif mahal, tapi karena seleranya tidak cocok dengan mainan yang harga-nya relatif murah. Di salah satu videonya my Frens sempat membahas mengapa dia jarang bikin video pake mainan "murah". Ada orang yang duitnya kayak mediang Sudono Salim, tapi gemar mengoleksi mainan depan SD. Ada orang yang beli kolor baru aja mikir, tapi pengennya beli Hot Toys. Sepertinya my Frens adalah orang yang bisa menyesuaikan isi kantong dan gaya hidup. Patut dicontoh oleh para kolektor baru yang butuh pemahaman perihal prioritas dalam mengoleksi mainan.

Dari segi review, ada kesenangan janggal melihat barang yang di-review olehnya. Memang dasar manusia senang untuk memandang ke atas, melihat jauh soal pencapaian yang tidak bisa digapai, berangan-angan lalu tenggelam dalam batas dan menyelami harapan yang semu. Namun, ah bisa apa kami para proletariat, melihat figures dan statue dengan detail tinggi, head sklap yang sangat movie accurate, paint job yang mengkilap layaknya dipoles dengan semir ban rasanya sudah lebih dari cukup sebagai pemenuh halusinasi kami, karena saya nggak tertarik juga punya barang-barang tersebut. Balik lagi, beda preferensi.


Kualitas review yang disuguhkan cukup jelas dan mumpuni. Kualitas visual yang jernih dan audio yang diperhatikan menjadi standar wajib untuknya. Aura mainan mewah yang ada dengan jelas dapat tersalurkan dengan lancar jaya menuju pupil mata saya yang terbelalak karena baru sadar saya menghabiskan waktu 20 menit lebih untuk menonton review mainan. Bagaimana lagi, demi tulisan ini saya harus menambah angka view untuk my Frens.


Lebih dari sekedar mainan mahal

Saya rasa jika hanya bermodalkan mainan mahal saja, my Frens tentu tidak bisa sebesar sekarang. Ada dua hal yang menunjang my Frens bisa berada di hampir satu juta subscribers. Hal itu adalah semangat dan passion. Semangat dilihat dari luar, passionate terlihat dari dalam. Meskipun menurut saya pemahaman passion pada akhirnya terinfeksi romantisisasi dan glorifikasi publik. Manusia modern gemar untuk berlindung dibalik kata passion untuk apa yang dia kerjakan, membuat saya berpikir jika passion itu tidak eksak, passion itu progresif.

Tapi my Frens masih terlihat sama seperti pertama kali saya lihat beberapa tahun lalu. Semangatnya yang luar biasa di setiap video menjadi tontonan tersendiri. Saking passionate-nya, seperti ada pertukaran energi ketika menonton my Frens di YouTube. Beliau yang semangat, saya yang capek. Mungkin jika bisa dikonversi, saya lebih memilih untuk mengonversi semangat my Frens menjadi energi lain melalu PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Semangat), atau paid partnership dengan Goku untuk mengalahakan Frieza dengan Bola Semagat. Tapi mungkin salah satu syarat menjadi YouTuber adalah harus bersemangat di setiap video, terlepas thumbnail yang ramenya mirip sama deretan banner di jalan Cinere Raya. Kenapa ya thumbnail video di YouTube harus rame banget?


Karena semangatnya itulah saya jadi penasaran apakah sehari-hari dia memang selalu bersemangat seperti itu? Apakah dia memanggil koleganya dengan sebutan “frens”?  Apakah dia selalu tersenyum setiap saat seolah tidak ada emosi lain selain emosi positif selayaknya Marie Kondo? Lagi-lagi saya merasa sedih, saya yang disebut frens olehnya seperti tidak mengenal beliau dengan baik.

Salah satu hal yang menurut saya paling sulit dari seorang YouTuber adalah konsistensi, dan hal itu yang sangat dimiliki oleh my Frens. Selain konsisten memakai snapback Iron Man, Deadpool, dan Spider-Man, my Frens juga konsisten perihal unggah-mengunggah video. Pada cover YouTube-nya tertulis "upload hampir 2 hari sekali", dan itu bukan janji semata, tapi lebih ke aksi nyata. My Frens ini dapat energi dari mana sih bisa serajin dan sekonsisten itu bikin video? Saya harus angkat topi untuk konsistensinya meskipun topi saya bukan topi Spider-Man.




Sampai jumpa di Review Toy Reviewer selanjutnya.